Yes to Life by Viktor E. Frankl (Memaknai Penderitaan)

Yes to Life by VIKTOR E. FRANKL

Pengantar oleh Daniel Goleman




Informasi Buku 

Judul : Yes to Life
Penulis : Viktor E. frankl
Penerbit : Noura Books
ISBN : 97-623-242-218-6
Tahun Publikasi : 2022
Jumlah Halaman : 168 halaman 
Buku : Milik Pribadi 
Bahasa : Indonesia
Harga : Rp. 59.000,00,- (P. Jawa)
Rating : 9/10

“Katakan Ya pada kehidupan apapun yang terjadi”

Kalimat di atas adalah kutipan pada sampul buku Yes to Life, hmmmm kutipan itu bikin kepo yang jujur kalimat itu mengetuk hati mungil ini HHHH. Ketika merasa hidupku kok gini amat, berat banget dan nggak ada artinya nggak ada gunanya juga terus hidup. Pikiran-pikiran semacam itu pastinya pernah terlintas di diri kita, ketika manusia dalam titik terendah. Orang pesimis dalam memandang hidup dan ketika gagal Memaknai Penderitaan.

Viktor E. Frankl adalah seorang Psikiater dan Professor Neurologi di University of Wina, Austria. Selama Perang Dunia II, Viktor E. Frankl pernah menjadi tawanan Nazi di Auschwitz, Dachau, dan beberapa camp konsentrasi lainnya selama 3 (tiga) tahun lamanya. Holocaust telah menyebabkan jutaan orang kehilangan nyawa di kamp konsentrasi termasuk kedua orang tua dan istrinya yang tengah mengandung. Bisa kita bayangkan betapa berat tragedi yang menimpa hidup Frankl. Apa bisa bertahan, apa ada harapan untuk hidup dan apakah gairah hidup itu sendiri masih ada? ketika fakta yang dijumpai setelah bebas dari kamp adalah duka kehilangan keluarga.

Ketika memikirkan masa depan para tawanan tak akan mendapat gambaran apa pun. Mereka tak melihat ujung lorong itu, sesuatu yang tidak bisa diramalkan. Bahkan mereka merasa iri dengan penjahat yang di vonis hukuman kurungan 10 (sepuluh) tahun. Penjahat tahu kapan mereka bebas, dapat menghitung hari kebebasannya dan membayangkan apa saja yang akan dilakukannya setelah bebas. Sedangkan penghuni kamp tidak seorang pun mengetahui kapan hari pembebasan itu dan kapan ini akan berakhir. Dan itu yang paling membuat deperesi secara spiritual menurut para penghuni kamp terlepas dari tubuh mereka yang diekplositasi untuk kerja paksa.

Seputus asa itu para tawanan Nazi. Namun Pak Frankl ini menemukan alasan untuk untuk tetap hidup, tetap bermimpi akan kebebasannya dan bagaimana menjalani hidupnya setelah bebas. 

Insight dari buku Yes to Life :

1. Menjadi bahan pertimbangan ketika sudah akan menyerah pada hidup

Ketika merasa posisi kita sangat menyedihkan bahkan mengerikan, buku ini memberikan kesan untuk kita tetap terus hidup.

2. Bukan dirimu saja yang menderita

Ketika sedih, frustasi mengenai suatu hal, ingatlah Frank dan beberapa kisah yang telah dituangkan pada buku ini, mereka yang mampu melalui penderitaan.

3. Memberi tahu kita akan makna dalam penderitaan

Penderitaan saja bisa dimaknai sedemikian rupa. Memberi makna pada penderitaan melalui cara kita menghadapinya.

“Saya letih tak terkira, sedih tak terkira, kesepian tak terkira…. Di kamp kamu merasa sudah mencapai titik terendah dalam hidup. Lalu saat kembali pulang kamu menyaksikan segala sesuatu yang kamu coba pertahankan telah hancur…. Saat kamu menjadi manusia lagi, kamu bisa tenggelam bahkan lebih dalam ke sumur penderitaan yang tak berdasar. Kalau aku tidak memiliki sikap positif sekuat karang ini terhadap kehidupan, jadi apa aku selama pekan-pekan terakhir, atau bahkan selama berbulan-bulan di kamp konsentrasi?”


(Surat Viktor Frankl pada sahabatnya, Wilhelm dan Stepha Borner)

MinRu sangat merekomendasikan sih untuk buku ini. Hidup sangat tidak terduga banyak plot twist yang bikin kaget dan ngereog huhuu. Menjadi titik terendah ketika Ibuku tersayang pergi untuk selama-lamanya. 27 Agustus 2023 menjadi hari yang sangat tidak masuk akal. Bagaimana bisa ibuku dinyatakan berpulang ketika pesan whatsapp ibu yang hangat masih ku baca. Ketika sarapan pagiku disiapkan dengan cinta masih tertata rapi di meja. Bagaimana ini terasa seperti mimpi ketika tak pernah ada aku yang mendampinginya sampai tanah menyembunyikannya. Bagaimana aku tidak sempat mendandaninya sebelum berpisah untuk selamanya. Bagaimana Tuhan mengabulkan permintaan rahasia kita berdua bu. Obrolan santai kita mengenai kematian siapa yang lebih dulu. Dan kunyatakan sekali lagi bahwa aku tidak mau menyaksikan itu. Maka Tuhan mengutus Izrail menjemput Ibunda diam-diam.

Betapapun sedihnya, betapapun sulitnya, betapapun tidak dapat diterimanya suatu penderitaan. MinRu teringat akan buku Yes to Life yang kubeli awal tahun. Bagaimana memaknai penderitaan. Hidup yang tidak dimaknai adalah hidup yang sia-sia. Dan tugas terbesar manusia adalah mencari makna dalam hidupnya. Teruslah mencari, bertahan dan tetaplah hidup.

Ok, cukup segini dulu ya.. ketemu lagi pada review dan sharing insight buku berikutnya. Semoga bermanfaat .. 😇


Komentar

Postingan Populer